Gunungkidul — Menjaga kelestarian ekosistem karst membutuhkan kepedulian dan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi muda. Melalui Conservation Goes to School (CGTS) 2026, Balai KSDA Yogyakarta telah menjangkau 1.224 siswa dari 18 sekolah dan satu kalurahan di 18 kapanewon di Kabupaten Gunungkidul. Program ini mendorong para siswa untuk mengenal keanekaragaman hayati sekaligus mengambil peran dalam upaya pelestarian lingkungan. Rangkaian kegiatan tersebut mencapai puncaknya di Wunung Giri Sela Kandha, Kamis (29/10/2026), dengan mengusung tagline “Handayani Hijau: Aksi Nyata Generasi Muda Merawat Semesta”.

Mengusung semangat “Muda, Peduli, Lestari”, CGTS 2026 menjadi salah satu upaya Balai KSDA Yogyakarta untuk menanamkan kepedulian konservasi di kalangan pelajar. Melalui program ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang keanekaragaman hayati dan pentingnya menjaga ekosistem karst Gunungkidul, tetapi juga didorong untuk menerapkan pengetahuan tersebut melalui berbagai praktik dan kegiatan nyata di lingkungan sekitar.

Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Ir. Darmanto, S.P., M.A.P., menyampaikan bahwa Gunungkidul memiliki ekosistem karst yang unik sekaligus rentan. Kawasan ini menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna khas yang keberadaannya perlu dijaga. Menurutnya, upaya pelestarian alam tidak dapat dilakukan oleh BKSDA sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi muda.

“Konservasi sebaiknya hadir tidak hanya di kantor dan kawasan hutan, tetapi juga di ruang kelas dan halaman sekolah. Melalui CGTS, kami mengajak generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang membawa pesan pelestarian lingkungan kepada keluarga dan masyarakat,” ungkapnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa falsafah Hamemayu Hayuning Bawono mengajarkan pentingnya menjaga keselarasan hubungan antara manusia dan alam. Melalui semangat tersebut, puncak CGTS 2026 diharapkan bukan menjadi akhir kegiatan, melainkan awal dari kolaborasi yang lebih kuat untuk mewujudkan Gunungkidul yang hijau dan lestari.

Rangkaian kegiatan CGTS 2026 berlangsung pada 30 April hingga 26 Oktober 2026 melalui enam program yang dirancang untuk mendorong keterlibatan siswa dalam upaya konservasi. Keenam program tersebut meliputi pendataan keanekaragaman hayati (research & citizen science); kampanye digital (digital campaign); gerakan pembibitan dan penanaman tanaman karst dan buah (eco culture); penelusuran kearifan lokal (rooted wisdom); pemotretan kehidupan masyarakat dalam bentuk film dokumenter (human experience); serta inovasi hijau dari lingkungan sekolah (green innovation).

Pada kegiatan puncak CGTS ini, peserta mengikuti sejumlah agenda, mulai dari penanaman pohon secara simbolis, penyampaian materi pencegahan kebakaran hutan dan lahan oleh Balai Dalkarhut Jabalnusra, hingga berbagi pengalaman mengenai pengelolaan Wunung Giri Sela Kandha oleh Ir. Sri Astuti Soedjoko, M.Sc. Kegiatan juga diisi dengan presentasi hasil karya terbaik hasil dari tiap-tiap program yang disampaikan oleh siswa, pemberian tanggapan dan masukan dari kalangan akademisi, serta penyerahan hadiah dan sertifikat penghargaan kepada tim yang berhasil meraih juara berdasarkan hasil penilaian terhadap pelaksanaan enam program CGTS 2026.

Adapun tim yang menjadi perwakilan sekolah yang berhasil meraih penghargaan pada masing-masing kategori adalah sebagai berikut:

Program

Juara I

Juara II

Juara III

Research & Citizen Science

SMK N 1 Saptosari

SMK N 1 Ngawen

SMK N 1 Nglipar

Digital Campaign

SMA N 1 Karangmojo

SMA N 1 Semin

SMA N 1 Tanjungsari

Eco Culture

SMK N 1 Ngawen

SMA N 2 Playen

SMA N 1 Tanjungsari

Rooted Wisdom

SMK N 1 Nglipar

SMK N 1 Ngawen

SMK N 1 Girisubo

Human Experience

SMA N 1 Wonosari

SMA N 1 Tanjungsari

SMA N 1 Semin

Green Innovation

SMA N 1 Wonosari

SMK N 1 Purwosari

SMK Mahesa Agni

Puncak CGTS ini dihadiri oleh perwakilan 18 sekolah mitra yang masing-masing mengirimkan kepala sekolah dan/atau guru pendamping bersama enam siswa. Sejumlah pemangku kepentingan turut hadir, antara lain perwakilan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, unsur kewilayahan, kader konservasi, dan pegiat lingkungan.

Pelaksanaan CGTS 2026 didukung oleh berbagai mitra, di antaranya Fakultas Kehutanan dan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana, Universitas Gunungkidul, Balai Pendidikan Menengah Gunungkidul, Rumah BUMN Gunungkidul, PT Mitsui Sumitomo Indonesia (MSIG), Yayasan JAVLEC Indonesia, Balai Dalkarhut Jabalnusra, Banyumanik Research Center, serta pengelola Wunung Giri Sela Kandha.

Gunungkidul memiliki bentang alam karst yang menyimpan fungsi ekologis penting, termasuk sistem gua, luweng, sungai bawah tanah, dan sumber air. Meskipun sebagian wilayahnya tampak kering di permukaan, ekosistem karst memiliki karakter yang rentan dan membutuhkan waktu pemulihan yang panjang apabila mengalami kerusakan. Karena itu, pengenalan nilai penting ekosistem karst kepada generasi muda menjadi salah satu langkah untuk membangun kepedulian sejak dini.

Melalui CGTS 2026, Balai KSDA Yogyakarta berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh siswa tidak berhenti sebagai kegiatan edukasi sesaat, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Keterlibatan generasi muda diharapkan turut memperkuat upaya menjaga keanekaragaman hayati, melestarikan sumber air, menghidupkan kembali kearifan lokal, serta mengembangkan inovasi ramah lingkungan di Gunungkidul (THS).

 

Sumber: Rahmi Ananta Widyakristianti, A.Md. (Resor KSDA Gunungkidul)

Penulis naskah: Tim Kehumasan Balai KSDA Yogyakarta 

Editor: Tim Kehumasan Balai KSDA Yogyakarta

Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta

Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)