SLEMAN – Cagar Alam (CA) dan Taman Wisata Alam (TWA) Batu Gamping kembali menjadi ruang perjumpaan antara konservasi, budaya, dan masyarakat melalui penyelenggaraan Batu Gamping Fest. #2 pada 16–17 Juli 2026. Mengusung tema "Merawat Tradisi, Meruwat Konservasi", festival yang diselenggarakan Balai KSDA Yogyakarta bersama Pemerintah Kalurahan Ambarketawang, dan berbagai mitra ini menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari edukasi konservasi, olahraga tradisional, pameran, hingga pelestarian budaya.
Tidak sekedar menjadi ajang hiburan, Batu Gamping Fest. #2 juga menjadi media untuk mengenalkan fungsi kawasan konservasi kepada masyarakat. Melalui pendekatan budaya dan partisipasi publik, penyelenggara ingin menunjukkan bahwa pelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Festival Dibuka dengan Semangat Kolaborasi
Batu Gamping Fest. #2 resmi dibuka di Pendopo Resor KSDA Wilayah Sleman Kota, Kamis (16/7/2026). Pembukaan diawali dengan penampilan Tari Sekar Pudyastuti dari Sanggar Among Siwi yang menggambarkan semangat pelestarian budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat Gamping.
Ketua Panitia, Giyono, S.H., mengatakan Batu Gamping Fest. #2 diselenggarakan sebagai ruang untuk memperkenalkan potensi kawasan Ca dan TWA Gamping yang tidak hanya memiliki nilai geologi, tetapi juga kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya. Melalui rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai kalangan, festival ini diharapkan mampu menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi sejak usia dini.
Dukungan terhadap penyelenggaraan festival juga datang dari Pemerintah Kapanewon Gamping. Perwakilan Kapanewon Gamping, Kurniawati, menilai Batu Gamping Fest menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian kawasan sekaligus mengangkat potensi wisata dan budaya yang dimiliki Gamping. Menurutnya, keterlibatan masyarakat, pelaku UMKM, dan komunitas dalam festival ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian warga tanpa mengabaikan upaya pelestarian kawasan.
Seme
ntara itu, Kepala Subdirektorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam, Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan, Dr. Johan Setiawan, S.Hut., M.Sc., mengingatkan bahwa Cagar Alam dan Taman Wisata Alam merupakan kawasan konservasi yang pemanfaatannya harus tetap mengedepankan prinsip kelestarian.
"Konservasi tidak melarang pemanfaatan, tetapi mengaturnya melalui koridor yang legal, bertanggung jawab, dan berkelanjutan," kata Bapak Johan.
Senada dengan itu, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Ir. Darmanto, S.P., M.AP., mengatakan kawasan konservasi tidak hanya berfungsi melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi ruang pendidikan, penelitian, wisata alam, dan pelestarian budaya. Menurutnya, pengelolaan kawasan akan semakin optimal apabila dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha sehingga mampu memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan .
Pameran Konservasi dan UMKM Meramaikan Festival
Selama dua hari pelaksanaan, pengunjung disuguhi pameran yang memadukan edukasi konservasi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sebanyak 12 stan konservasi menghadirkan informasi mengenai pengelolaan kawasan, rehabilitasi hutan, konservasi satwa liar, hingga edukasi lingkungan.
Peserta pameran berasal dari Balai Taman Nasional Gunung Merapi, Balai Pengelolaan DAS Opak Progo, Unit Penyelamatan Satwa Bunder, Badan Pengelola Geo Park Jogja, PT Triasih Suraloka Ardi, Gembira Loka Zoo, PT. Sanjaya Reptil Indonesia, PT. Tetra Terra, Rumah Serangga, SMP Negeri 4 Gamping, Unit Pengurangan R
esiko Konflik satwa Kekhandangan, serta Balai KSDA Yogyakarta. Masing-masing stan menghadirkan media edukasi, koleksi, dan permainan interaktif yang mengajak pengunjung mengenal lebih dekat keanekaragaman hayati serta pentingnya menjaga kawasan konservasi.
Festival juga menghadirkan lima stan UMKM lokal yang menawarkan beragam produk kuliner, makanan olahan, minuman tradisional, hingga produk kreatif masyarakat Ambarketawang. Kehadiran pelaku UMKM menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui kegiatan wisata berbasis konservasi sekaligus memperkenalkan produk unggulan masyarakat kepada para pengunjung.
Jemparingan Tradisional Perkenalkan Potensi Batu Gamping
Lomba jemparingan tradisional menjadi salah satu kegiatan yang paling menyita perhatian pengunjung selama Batu Gamping Fest #2. Sebanyak 21 komunitas jemparing dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta ambil bagian dalam perlombaan yang digelar di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Batu Gamping. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi upaya memperkenalkan kawasan konservasi melalui olahraga tradisional yang sarat nilai budaya.
Kepala Subbagian Tata Usaha Balai KSDA Yogyakarta, Bidhin Lintang Anggraheni, S.Hut., M.P., mengatakan pemilihan jemparingan
bukan tanpa alasan. Olahraga tradisional khas Yogyakarta ini mengajarkan filosofi ketenangan, konsentrasi, dan keseimbangan, nilai-nilai yang selaras dengan semangat pelestarian alam.
"Kami ingin menjadikan jemparingan sebagai sarana memperkenalkan potensi wisata TWA maupun Cagar Alam Batu Gamping. Harapannya masyarakat tidak hanya datang untuk berwisata, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kawasan konservasi," kata Lintang.
Perlombaan dinilai oleh dewan juri dari Komunitas Kadang Jemparing Siliran (KJS). Pada kategori putra, Galih Suryananto berhasil meraih juara pertama, diikuti Imam Yuda Permana sebagai juara kedua dan Jarot Agung S. di posisi ketiga. Sementara pada kategori putri, Walidah keluar sebagai juara pertama, disusul Haryati sebagai juara kedua.
Mengenalkan Konservasi Sejak Usia Dini
Selain menyasar masyarakat umum, Batu Gamping Fest. #2 juga memberikan ruang bagi anak-anak melalui lomba mewarnai dan menggambar bertema konservasi. Lomba mewarnai diikuti siswa TK Tunas Islam dan TK ABA Delingsari, sedangkan lomba menggambar diikuti siswa SD Negeri Tlogo dan SD Negeri Mejing 2 Gamping.
Kepala Seksi KSDA Wilayah II, Dr. Pairah, S.Si., M.P., men
gatakan kegiatan tersebut bertujuan menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini melalui pendekatan yang menyenangkan.
"Goresan crayon anak-anak dapat menjadi awal tumbuhnya kepedulian terhadap konservasi. Kami ingin mereka mengenal satwa, tumbuhan, dan alam sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga bersama," katanya.
Karya peserta didominasi gambar satwa liar, pepohonan, bentang alam karst, dan aktivitas manusia yang hidup berdampingan dengan alam. Hal ini menunjukkan bahwa pesan konservasi dapat diterima dengan baik melalui media seni.
Juara lomba mewarnai diraih oleh Bilqis Chayra Aftani, Muhammad Kenzie Raka Abimanyu, dan Kailasafa Aulia. Sementara seluruh juara lomba menggambar didominasi dari SD Negeri Mejing 2 Gamping, yakni Manggala Kameswara, Accelin Fauziah Mahardhika, dan Aisyah Alya Kirani.
Gendu-Gendu Rasa Bahas Pemanfaatan Satwa Liar Berkelanjutan
Sebagai bagian dari Batu Gamping Fest #2, Balai KSDA Yogyakarta menggelar sarasehan Gendu-Gendu Rasa Konservasi bertema "Konservasi Bukan Larangan: Mengenal Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar yang Legal, Bertanggung Jawab, dan Berkelanjutan." Kegiatan ini menghadirkan akademisi, praktisi konservasi, pelaku penangkaran satwa liar, serta masyarakat untuk berdiskusi mengenai pengelolaan tumbuhan dan satwa liar yang berkelanjutan.
Penangkar Merak Hijau, Anggit Masarifuddin, membagikan pengalaman mengelola penangkaran Merak Hijau (Pavo muticu
s) yang telah berizin sejak 2019. Ia menyampaikan bahwa penangkaran tidak hanya bertujuan mengembangbiakkan satwa, tetapi juga mendukung pelestarian populasi di alam. Hingga kini, pihaknya telah melepasliarkan 22 ekor Merak Hijau di Taman Nasional Baluran dan berencana melanjutkan pelepasliaran di Taman Nasional Alas Purwo pada 2026.
Sementara itu, praktisi lingkungan Dr.rer.silv. Ir. Sandy Nurvianto, S.Hut., M.Sc., IPM. menegaskan bahwa penangkaran satwa liar harus mengutamakan prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare) serta dilakukan sesuai ketentuan. Ia juga mengingatkan bahwa kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa merupakan kawasan yang harus dijaga karena satwa liar memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Ir. Darmanto, S.P., M.AP., menegaskan bahwa konservasi tidak bersifat kaku atau saklek, melainkan harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan pelestarian keanekaragaman hayati. Menurutnya, setiap satwa yang menjadi objek fokus konservasi memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sehingga harus mendapat perhatian dan perlindungan. Beliau juga mengajak masyarakat memandang upaya konservasi sebagai bentuk pengabdian. "Bagi kami, tugas di bidang konservasi adalah ibadah," ujarnya.
Senam Bersama Sambut Puncak Festival
Memasuki hari kedua penyelenggaraan, suasana Taman Wisata Alam (TWA) Batu Gamping semakin semarak dengan kegiatan senam bersama yang diikuti masyarakat, perangkat kalurahan, komunitas, peserta festival, serta pengunjung. Sejak pagi hari, ratusan peserta memadati area kegiatan untuk mengikuti senam yang menjadi pembuka rangkaian acara pada Jumat (17/7).
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengajak masyarak
at menerapkan pola hidup sehat, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan antara pengelola kawasan konservasi dengan masyarakat. Seusai senam, peserta mengikuti kuis interaktif bertema keanekaragaman hayati yang diselenggarakan Balai KSDA Yogyakarta. Melalui kuis tersebut, peserta diajak mengenal berbagai jenis flora dan fauna serta fungsi kawasan konservasi dengan cara yang menyenangkan.
Suasana keakraban yang terbangun melalui senam bersama menjadi pengantar menuju agenda utama hari kedua, yakni Upacara Adat Bekakak, yang setiap tahunnya menjadi tradisi masyarakat Ambarketawang sekaligus daya tarik wisata budaya di kawasan Batu Gamping.
Upacara Adat Bekakak Menjadi Puncak Festival
Puncak Batu Gamping Fest. #2 berlangsung pada Jumat (17/7) melalui Upacara Adat Bekakak, tradisi yang telah menja
di identitas budaya masyarakat Ambarketawang sejak ratusan tahun lalu.
Prosesi diawali dengan kirab budaya yang diikuti tokoh adat, kelompok seni, masyarakat, dan tamu undangan menuju kawasan TWA Batu Gamping. Suasana semakin semarak dengan iringan kesenian tradisional dan partisipasi masyarakat yang memadati jalur kirab.
Puncak acara ditandai dengan penyembelihan bekakak, sepasang replika pengantin yang dibuat dari tepung ketan sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan terhadap sejarah kawasan Batu Gamping. Tradisi ini dipercaya menjadi pengingat akan pentingnya hidup selaras dengan alam dan menjaga warisan budaya yang diwariskan para leluhur.
Bagi Balai KSDA Yogyakarta, penyelenggaraan Upacara Adat Bekakak di kawasan Ca dan TWA Batu Gamping menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pelestarian kawasan konservasi. Kearifan lokal menjadi salah satu modal penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian alam.
Merawat Tradisi, Meruwat Konservasi
Batu Gamping Fest #2 memperlihatkan bahwa konservasi t
idak hanya berbicara mengenai perlindungan tumbuhan dan satwa liar, tetapi juga membangun hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam. Melalui festival ini, masyarakat diajak melihat bahwa kawasan konservasi dapat menjadi ruang belajar, ruang budaya, sekaligus ruang tumbuhnya ekonomi lokal.
Dengan kolaborasi berbagai pihak, Balai KSDA Yogyakarta berharap Batu Gamping Fest terus berkembang menjadi agenda tahunan yang mampu memperkuat posisi TWA Batu Gamping sebagai destinasi wisata berbasis konservasi dan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta, sekaligus menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumber daya alam untuk generasi mendatang (THS).
Sumber: Resor KSDA Sleman Kota
Editor: Tim Kehumasan Balai KSDA Yogyakarta
Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta
Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
