KULON PROGO – Upaya menjaga keanekaragaman hayati tidak dapat hanya bertumpu pada kawasan konservasi. Perlindungan satwa liar, tumbuhan, dan ekosistemnya membutuhkan keterlibatan seluruh pihak dan harus dilakukan hingga ke wilayah di luar kawasan konservasi. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Masyarakat yang diselenggarakan Balai KSDA Yogyakarta di Padukuhan Bleberan, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, pada 18–19 Juni 2026.
"Keanekaragaman hayati adalah warisan yang harus kita jaga agar tetap dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang. Upaya konservasi ini tidak hanya dilakukan di dalam kawasan konservasi, tetapi juga di luar kawasan melalui kolaborasi seluruh pihak," Tegas Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Ir. Darmanto, S.P., M.AP.
Beliau juga mendorong Kalurahan Banaran untuk mengembangkan inisiatif Desa Ramah Burung atau Desa Ramah Lingkungan, sehingga upaya pelestarian keanekaragaman hayati dapat berlangsung secara berkelanjutan dan berbasis masyarakat.
Mendukung hal tersebut, Lurah Banaran, Haryanta, S.H., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan Balai KSDA Yogyakarta di wilayahnya. Menurutnya, berbagai kegiatan konservasi yang dilaksanakan di Banaran telah membuka ruang kolaborasi, mempererat silaturahmi, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
"Kami mungkin memiliki keterbatasan anggaran, tetapi semangat pengabdian tidak pernah berkurang. Kegiatan seperti ini membuka koneksi, mempererat silaturahmi, dan membawa manfaat bagi masyarakat. Kami berharap kegiatan ini semakin menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian terhadap lingkungan," ujarnya.
Di sisi lain, Wahyu Tri Kuncara, S.H.,MPA., Kepala Seksi KSDA Wilayah I Balai KSDA Yogyakarta menegaskan bahwa keanekaragaman hayati merupakan anugerah yang harus dipelajari dan dijaga bersama.
"Alam bekerja tanpa henti, dari organisme kecil hingga satwa besar. Semua saling terhubung dalam satu sistem kehidupan. Karena itu, menjaga keanekaragaman hayati tidak hanya menjadi tugas pemerintah atau pengelola kawasan konservasi, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat," katanya.
Selama kegiatan, peserta memperoleh materi dari sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya. Saliyo membawakan materi mengenai identifikasi herpetofauna dan pertolongan pertama pada kecelakaan akibat gigitan ular. Peserta dikenalkan pada karakteristik ular berbisa dan tidak berbisa, risiko dalam kegiatan herping, serta langkah-langkah pertolongan pertama sebelum mendapatkan penanganan medis.
Sementara itu, Hastin Ambar Asti memaparkan pentingnya herpetofauna sebagai bioindikator lingkungan, komponen dalam dinamika jaring makanan, sekaligus perekayasa ekosistem dan penyedia jasa lingkungan. Ia juga memperkenalkan berbagai metode inventarisasi herpetofauna, mulai dari Visual Encounter Survey (VES), Transect Sampling, Quadrat Sampling, hingga metode Drift Fence and Pitfall Trap serta bioakustik.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 403 spesies amfibi dan 842 spesies reptil, sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi habitat bagi sedikitnya 26 spesies amfibi dan 88 spesies reptil. Angka tersebut menunjukkan bahwa Yogyakarta menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang sangat kaya dan perlu terus didokumentasikan serta dilestarikan.
Pada sesi berikutnya, Raditia Nugraha membawakan materi mengenai lahan basah atau mangrove dan habitat burung migran di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia menjelaskan bahwa Pantai Trisik, Kulon Progo, merupakan salah satu lokasi penting persinggahan burung migran di Pulau Jawa. Hasil inventarisasi selama periode 2023–2026 mencatat sedikitnya 46 spesies burung migran yang singgah di kawasan tersebut.
Materi mengenai pengenalan burung pantai dan burung migran kemudian dilanjutkan oleh Hary Susanto, yang memperkenalkan berbagai jenis burung air yang tercatat di Pantai Trisik, seperti trinil, cangak abu, cangak besar, kuntul perak, kuntul kerbau, kuntul karang, blekok, dan cerek jawa. Peserta juga diajak memahami pentingnya pencatatan waktu dan lokasi penemuan sebagai bagian dari kegiatan inventarisasi dan pemantauan populasi burung.
Selain mendapatkan materi di kelas, peserta juga melakukan praktik lapangan melalui kegiatan herping atau pengamatan reptil dan amfibi di tiga lokasi di Kalurahan Banaran. Hasil penelusuran mencatat Kelompok I menemukan 8 spesies herpetofauna dengan total 33 individu, Kelompok II menemukan 15 spesies dengan total 31 individu, dan Kelompok III menemukan 8 spesies dengan total 25 individu.
Pada hari kedua, peserta melakukan pengamatan burung migran di kawasan pesisir dan mangrove Muara Trisik menggunakan kapal. Beberapa jenis burung yang ditemukan antara lain dara laut jambul, trinil pantai, cerek jawa, cangak besar, cangak abu dan burung air lainnya. Kegiatan ini bertujuan mengenalkan jenis-jenis burung migran beserta habitatnya kepada peserta.
Sebagai bentuk aksi nyata konservasi, dilaksanakan kegiatan penanaman sebanyak 158 bibit mangrove di kawasan Muara Trisik. Penanaman mangrove dilakukan sebagai bagian dari upaya rehabilitasi dan pemulihan ekosistem pesisir, sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan. Selain itu, dilakukan pula pemasangan papan informasi mengenai burung migran sebagai media edukasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Balai KSDA Yogyakarta kembali menegaskan bahwa konservasi tidak mengenal batas administratif kawasan. Menjaga keanekaragaman hayati merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi multipihak, sehingga kekayaan hayati Indonesia dapat terus lestari dan diwariskan kepada generasi mendatang.


Sumber: Tim Jogja Biodiversity Explore dan RKSDA Wilayah Kulon Progo
Penulis naskah: Tri Hastuti Swandayani, S.Kom., M.Si. (Penata Layanan Operasional/Humas Balai KSDA Yogyakarta)
Editor: Tim Kehumasan Balai KSDA Yogyakarta
Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta
Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
