GUNUNGKIDUL — Masa depan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh generasi muda yang akan menjadi pengambil keputusan di masa depan. Berangkat dari semangat tersebut, Balai KSDA Yogyakarta menggandeng 146 siswa SMA Negeri 1 Pathuk, Kabupaten Gunungkidul, melalui program Conservation Goes to School (CGTS) yang dilaksanakan pada 26 Mei 2026. Program ini menjadi langkah awal untuk membentuk agen-agen konservasi muda yang tidak hanya memahami pentingnya menjaga alam, tetapi juga mampu mengambil peran nyata dalam melestarikan lingkungan di wilayahnya.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan pengenalan mengenai tugas dan fungsi Balai KSDA Yogyakarta, pentingnya perlindungan satwa liar, serta kekayaan flora khas kawasan karst Gunungkidul yang menjadi salah satu bentang alam unik di Indonesia. Para peserta juga diajak memahami berbagai ancaman terhadap keanekaragaman hayati, mulai dari degradasi habitat hingga praktik pemeliharaan satwa liar dilindungi yang masih ditemukan di masyarakat.
Melalui diskusi interaktif, siswa diajak memahami bahwa setiap spesies memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Satwa liar bukan untuk dipelihara, melainkan untuk dilindungi agar tetap dapat menjalankan fungsinya di habitat alami.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari cara mengenali satwa dilindungi, upaya penyelamatan satwa liar, hingga bagaimana generasi muda dapat berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Diskusi yang hidup tersebut menunjukkan bahwa isu konservasi bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan pelajar, melainkan bagian dari masa depan yang akan mereka hadapi.
Namun, Conservation Goes to School bukan sekadar kegiatan sosialisasi satu hari. Program ini dirancang sebagai gerakan berkelanjutan yang akan berlangsung hingga Oktober 2026. para siswa akan terlibat dalam enam pilar Conservation Goes to School, yaitu Riset dan Citizen Science, Kampanye Digital, Eco-Culture, Green Innovation, Human Experience, dan Rooted Wisdom. Keenam pilar tersebut dirancang untuk menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan aksi nyata konservasi yang berakar pada kondisi lingkungan Gunungkidul.
Sebagai wilayah yang memiliki bentang alam karst unik dan kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi, Gunungkidul menjadi lokasi yang strategis untuk pengembangan pendidikan konservasi berbasis masyarakat. Melalui keterlibatan langsung dalam riset, inovasi, budaya, dan aksi lingkungan, para pelajar tidak hanya belajar mengenali alam di sekitarnya, tetapi juga memahami pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang.
Harapan terbesar dari program ini adalah lahirnya gerakan anak muda yang mampu menjadi penggerak perubahan di komunitasnya masing-masing. Ketika kelak mereka menjadi pemimpin, akademisi, pelaku usaha, maupun pengambil kebijakan, mereka diharapkan memiliki perspektif pembangunan yang selaras dengan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan.
Conservation Goes to School menjadi bukti bahwa konservasi dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Dari ruang kelas, para pelajar diajak untuk mengenal, memahami, dan mencintai alam. Dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan hari ini, diharapkan tumbuh generasi yang mampu menjaga harmoni antara manusia dan alam demi masa depan Gunungkidul yang berkelanjutan.
Sumber: Rahmi Ananta Widyakristianti, A.Md. (Penyuluh kehutanan Balai KSDA Yogyakarta)
Penulis naskah: Tri Hastuti Swandayani, S.Kom., M.Si. (Penata Layanan Operasional/Humas Balai KSDA Yogyakarta)
Editor: Tim Kehumasan Balai KSDA Yogyakarta
Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta
Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
