KULON PROGO — Kemampuan pemandu wisata menjadi salah satu kunci utama dalam pengembangan ekoeduwisata berbasis masyarakat di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Sermo. Untuk memperkuat kapasitas tersebut, Balai KSDA Yogyakarta menggembleng anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Manunggal Karya melalui pelatihan kepemanduan wisata alam yang tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan.
Pendampingan yang berlangsung pada Kamis (21/5/2026) di Dusun Bibis, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo ini difokuskan pada pembentukan pemandu wisata yang komunikatif, percaya diri, mampu membangun interaksi dengan wisatawan, sekaligus menyampaikan pesan konservasi secara menarik selama perjalanan wisata.
Pada kesempatan tersebut, kegiatan menghadirkan narasumber Amalia Ramadhani dari KTH Wanapaksi dengan materi bertema “Tips dan Trik Menjadi Pemandu Lokal”. Pelatihan tidak hanya menekankan teori, tetapi juga kemampuan praktik lapangan yang menjadi kunci utama dalam pelayanan wisata berbasis pengalaman
Peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengertian dan tugas pemandu wisata, peran pemandu lokal dalam memperkenalkan kawasan, karakter dasar yang harus dimiliki, etika profesional, teknik public speaking, hingga strategi menjadi pemandu yang diminati wisatawan. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman terkait hal-hal yang tidak boleh dilakukan seorang pemandu saat mendampingi pengunjung.
“Pemandu lokal memiliki peran penting dalam membangun pengalaman wisata yang berkesan sekaligus menyampaikan pesan konservasi kepada pengunjung,” ujar Amalia dalam sesi pelatihan.
Tidak hanya menerima materi di dalam ruangan, peserta juga langsung mengikuti simulasi praktik di lapangan. Sebanyak empat calon pemandu yang telah dipilih melakukan simulasi kepemanduan, sementara peserta lainnya berperan sebagai wisatawan. Dalam simulasi tersebut, peserta dilatih membuka perjalanan wisata, menyampaikan informasi kawasan, menjaga komunikasi dengan rombongan, hingga membangun suasana perjalanan agar tetap menarik dan edukatif.
Praktik dilakukan pada salah satu dari empat jalur trekking yang telah disiapkan KTH Manunggal Karya. Jalur sepanjang sekitar satu kilometer itu melewati jalan datar, pemukiman warga, pekarangan masyarakat, pinggiran sungai, hingga tepian danau. Jalur yang beragam dimanfaatkan sebagai media latihan bagi calon pemandu untuk beradaptasi dengan situasi lapangan sekaligus melatih kemampuan interpretasi lingkungan kepada wisatawan.
Setelah trekking selesai, dilakukan evaluasi bersama terhadap setiap calon pemandu, mulai dari teknik penyampaian materi, kemampuan komunikasi, penguasaan jalur, interaksi dengan peserta, hingga kesiapan membaca kondisi lapangan. Evaluasi tersebut menjadi bagian penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan wisata alam berbasis masyarakat.
Pendampingan ini dinilai sangat bermanfaat bagi anggota kelompok karena mampu mengasah keterampilan komunikasi, memperkuat pemahaman kepemanduan, meningkatkan rasa percaya diri, sekaligus mengevaluasi kesiapan jalur dan layanan wisata yang telah dirintis.
Melalui kegiatan ini, Balai KSDA Yogyakarta berharap KTH Manunggal Karya dapat berkembang menjadi penggerak ekoeduwisata yang mampu menghadirkan pengalaman wisata edukatif, memberdayakan masyarakat, serta tetap menjaga kelestarian kawasan konservasi di sekitar SM Sermo.

Sumber: Nona Endah Puspitasari, S.Hut. (Penyuluh kehutanan Balai KSDA Yogyakarta)
Penulis naskah: Tri Hastuti Swandayani, S.Kom., M.Si. (Penata Layanan Operasional/Humas Balai KSDA Yogyakarta)
Editor: Tim Kehumasan Balai KSDA Yogyakarta
Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta
