GUNUNGKIDUL – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta bersama pemangku kepentingan terkait menggelar Pertemuan Forum Suaka Margasatwa (SM) Paliyan di Aula Pendidikan SM Paliyan pada Rabu (22/04/2026). Pertemuan ini bertujuan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya pemulihan ekosistem karst dan penguatan fungsi kawasan SM Paliyan berbasis pemberdayaan masyarakat.

Kepala BKSDA Yogyakarta, Ir. Darmanto, S.P., M.AP., dalam arahannya menekankan pentingnya membangun harmonisasi konservasi. Menurutnya, keberhasilan menjaga kawasan konservasi sangat bergantung pada sinergi antara perlindungan alam dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Manajer Proyek MSIG Paliyan dari Mitsui Sumitomo Insurance Co. Ltd., Gunawan, memaparkan progres kerja sama penguatan fungsi kawasan. Fokus utama saat ini adalah penanaman kembali spesies asli (native species) seperti klumpit, kepuh, gondang, dan bulu. Jenis-jenis pohon ini dipilih karena secara historis tumbuh subur di area sakral dan sekitar telaga, sehingga memiliki daya tahan tinggi terhadap karakteristik tanah di Gunungkidul.

Selain aspek ekologi, program ini juga menyasar aspek edukasi. Sebanyak 14 sekolah (12 SD, 1 SMP, dan 1 SLB) di sekitar kawasan telah mendapatkan fasilitas greenhouse sebagai sarana belajar pembibitan hortikultura dan pengenalan spesies asli sejak dini.

Hadir sebagai narasumber, pakar hidrologi dari Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU, memaparkan materi bertajuk “Rahasia di Bawah Kaki Kita: Menjaga Hutan dan Tanah, Merawat Mata Air Gunung Sewu”. Ia menyoroti kompleksitas sistem sungai bawah tanah di ekosistem karst yang sangat rentan terhadap pencemaran.

"Tajuk pohon dan seresah hutan mampu menahan sekitar 35% air hujan, mencegah luapan permukaan (run-off), sekaligus mengikat lapisan tanah tipis di kawasan karst agar tidak tererosi," jelas Dr. Hatma.

Ia merekomendasikan perlunya inventarisasi luweng sebagai gerbang air dan pembatasan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan agar tidak mencemari cadangan air tanah yang perjalanannya menuju drainase bawah tanah bisa memakan waktu hingga 100 tahun.

Dalam sesi diskusi, forum menyoroti urgensi keseimbangan antara pelestarian ekosistem dan ketahanan ekonomi warga di sekitar kawasan. Muncul aspirasi mengenai perlunya solusi konkret bagi masyarakat yang secara bertahap akan meninggalkan area dalam kawasan SM Paliyan pada tahun 2030, di antaranya melalui optimalisasi infrastruktur air seperti sumur bor untuk pertanian serta peningkatan nilai tambah komoditas hasil panen agar petani memiliki daya tawar yang lebih tinggi. Upaya penguatan ekonomi ini dinilai menjadi kunci utama untuk mengurangi ketergantungan warga terhadap lahan hutan, yang secara tidak langsung juga diharapkan dapat meminimalisir konflik antara manusia dan monyet ekor panjang (MEP) yang belakangan dilaporkan semakin meluas di beberapa wilayah.

Selain aspek ekonomi dan ekologi, dari KUA Paliyan tengah melaksanakan penguatan nilai moral melalui pendekatan ekoteologi yang saat ini telah diimplementasikan dalam program penghijauan bagi pasangan calon pengantin. Melalui kewajiban menanam bibit pohon, konservasi tidak lagi dipandang sekadar sebagai aturan hukum, melainkan sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab spiritual untuk menjaga alam. Sinergi antara penyediaan bibit pohon produktif yang sesuai dengan karakteristik tanah karst dan penegakan pemahaman hukum diharapkan mampu mengubah persepsi masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya hutan sebagai aset bersama yang berkelanjutan.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kepala BKSDA Yogyakarta menyatakan bahwa saat ini terdapat tujuh Kelompok Tani Hutan (KTH) di wilayah penyangga yang sedang didampingi untuk pengembangan komoditas ekonomi.

Pertemuan ini ditutup dengan kesepakatan untuk terus memperkuat forum diskusi lintas sektor dan mendorong transformasi ekonomi masyarakat dari sektor olah lahan ke sektor jasa lingkungan dan perdagangan, guna memastikan SM Paliyan tetap lestari sebagai investasi jangka panjang bagi generasi mendatang.

 

Sumber: Seksi Konservasi Wilayah II

Penulis naskah: Julita Pitria, S.Hut (Penelaah Teknis Kebijakan) 

Editor: Tim Kehumasan BKSDA Yogyakarta

Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta

Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)