Kulon Progo – Potensi kelapa yang melimpah di wilayah penyangga Suaka Margasatwa Sermo menjadi salah satu pintu masuk bagi Kelompok Tani Hutan (KTH) Manunggal Karya untuk mengembangkan usaha sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam konservasi. Melalui produk olahan kelapa, budidaya, hingga ekoeduwisata, kelompok ini terus mengembangkan pemberdayaan masyarakat yang berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan.
Hal tersebut terungkap dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Pemberdayaan Masyarakat pada KTH Manunggal Karya yang dilaksanakan Balai KSDA Yogyakarta di rumah Ibu Sukismi, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Rabu (5/8/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan kelembagaan, pemanfaatan bantuan, usaha kelompok, serta kegiatan konservasi yang dilaksanakan KTH Manunggal Karya. .
KTH Manunggal Karya dibentuk pada 27 September 2018 dengan anggota awal sebanyak 19 orang. Dalam perkembangannya, jumlah anggota kelompok pada tahun 2026 mencapai 35 orang. Kelompok ini dibentuk di wilayah penyangga Suaka Margasatwa Sermo dengan semangat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kawasan sekaligus mengembangkan potensi ekonomi yang tersedia di sekitar kawasan konservasi.
Salah satu usaha yang menjadi identitas KTH Manunggal Karya adalah pengolahan kelapa menjadi keripik kelapa dengan merek Crispa. Potensi kelapa yang melimpah di wilayah sekitar kelompok diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Pengembangan usaha ini didukung dengan berbagai peralatan produksi dan pembinaan yang diterima kelompok dalam perjalanan pemberdayaannya.
Namun, kegiatan KTH tidak berhenti pada pengembangan produk. Kelompok juga mengembangkan budidaya lebah madu klanceng, tanaman rosella, serta berbagai tanaman pendukung, sekaligus mengembangkan jasa wisata alam dan wisata edukasi. Diversifikasi kegiatan tersebut menjadi upaya kelompok untuk memperluas sumber penghasilan dan meningkatkan kapasitas anggota.
Di sisi lain, konservasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas KTH Manunggal Karya. Kelompok terlibat dalam kegiatan penanaman, pengkayaan jenis tanaman untuk konservasi air, pengamatan burung, pendataan keanekaragaman hayati, herping, dan pengembangan jalur tracking. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi modal dalam pengembangan ekoeduwisata berbasis potensi alam setempat.
Melalui ekoeduwisata, KTH Manunggal Karya berupaya menghadirkan pengalaman belajar dari alam. Pengunjung tidak hanya diajak menikmati lingkungan, tetapi juga mengenal keanekaragaman hayati dan memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan demikian, kegiatan wisata diarahkan tidak semata-mata untuk memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Hasil monitoring menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat pada KTH Manunggal Karya telah berkembang pada berbagai aspek, mulai dari kelembagaan, usaha ekonomi produktif, hingga kegiatan konservasi. Meski demikian, masih terdapat sejumlah hal yang perlu diperkuat, terutama pemasaran produk, pengelolaan budidaya lebah klanceng, pengembangan jasa wisata alam, serta peningkatan kapasitas kelompok.
Balai KSDA Yogyakarta terus mendorong pendampingan dan penguatan sinergi dengan KTH Manunggal Karya serta para pihak terkait. Pengembangan usaha masyarakat diharapkan dapat berjalan beriringan dengan kegiatan konservasi sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat peran masyarakat sebagai mitra dalam menjaga kawasan konservasi (THS).
Sumber: Resor KSDA Wilayah Sermo Menoreh
Editor: Tim Kehumasan Balai KSDA Yogyakarta
Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta
Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
