Gunungkidul, DI. Yogyakarta – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Yogyakarta kembali menyelenggarakan “Pelatihan Handling dan Restrain Satwa Liar”. Kegiatan ini dilaksanakan di Unit Perlindungan Satwa (UPS) Bunder, Gunungkidul, pada Kamis (23/7). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas serta kompetensi petugas dalam melakukan penanganan satwa liar secara aman, efektif, dan tetap mengedepankan prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare).
Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh berbagai pihak, antara lain Balai Tahura Bunder; perawat satwa UPS Bunder; Unit Pengurangan Konflik Satwa Kekandhangan Banyuraden; Gading Rescue; Kader Konservasi; Saka Wana Bhakti; serta petugas rescue dari Seksi KSDA Wilayah I, Seksi KSDA Wilayah II, Resor KSDA Wilayah Gunungkidul, Paliyan, Bantul, Sermo Menoreh, Kulon Progo, dan Sleman Kota. Sementara itu, pelatihan menghadirkan narasumber dari Center for Orangutan Protection (COP) yang memiliki banyak pengalama dalam penanganan satwa liar di berbagai wilayah Indonesia.
Kegiatan pelatihan dibuka langsung oleh Kepala Seksi KSDA Wilayah II yang menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi petugas sebagaimana diamanatkan dalam Permen LHK No. P.17/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2019 tentang Penanganan Konflik Manusia dan Satwa Liar. Dalam sambutannya disampaikan bahwa setiap penanganan satwa liar harus dilakukan oleh petugas yang kompeten, mengikuti standar operasional prosedur, serta memperhatikan prinsip kesejahteraan satwa.
Dalam sambutannya, Kepala Seksi KSDA Wilayah II juga menyampaikan bahwa penanganan satwa liar bukan hanya persoalan keterampilan teknis, tetapi juga mengandung tanggung jawab besar untuk menjamin keselamatan petugas, masyarakat, dan satwa yang ditangani. Oleh karena itu, setiap tindakan harus dilaksanakan berdasarkan prosedur yang benar, memperhatikan aspek etika, keselamatan kerja, kesejahteraan satwa, serta didukung koordinasi yang baik antarinstansi.
Pelatihan ini juga mengajarkan cara menggunakan tulup. Disampaikan bahwa penggunaan tulup merupakan salah satu teknik penanganan non-letal yang direkomendasikan dalam regulasi tersebut untuk meminimalkan risiko cedera pada satwa maupun petugas. Teknik ini dinilai sangat sesuai diterapkan di wilayah kerja Balai KSDA Yogyakarta yang memiliki karakteristik kawasan berbukit, vegetasi rapat, hingga area permukiman. Dibandingkan senapan bius, tulup dinilai lebih aman digunakan pada jarak efektif sekitar 5-15 meter serta menjadi metode yang relatif sederhana, ekonomis, dan efektif dalam mendukung penanganan satwa liar di lapangan.
Dengan adanya pelatihan ini diharapkan seluruh peserta bisa meningkatkan pemahaman mengenai karakteristik satwa liar, teknik handling dan restrain yang tepat, penggunaan peralatan sesuai prosedur, keselamatan kerja, hingga langkah-langkah mitigasi risiko. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah berbagi pengalaman dan praktik terbaik guna memperkuat jejaring kerja sama antarpetugas dalam mendukung keberhasilan konservasi.
drh. Theresia Tinenti, Medis Veteriner dari center for Orangutan Protection (COP) sebagai narasumber telah berpengalaman dalam penanganan satwa liar. Narasumber memberikan materi yang memadukan konsep, pengalaman di lapangan, serta praktik langsung.
Pelatihan pada sesi pagi, peserta mendapatkan materi mengenai Pengantar Handling dan Restrain Satwa Liar, dilanjutkan dengan Teknik dan Standar Operasional Prosedur (SOP) Penggunaan Tulup, termasuk penjelasan mengenai anatomi titik tembak yang aman dan efektif dalam proses pembiusan satwa liar.
Pada siang hari ialah sesi praktik. Peserta melakukan penyiapan dan perakitan alat tulup, mempelajari teknik pembidikan target, serta mengikuti simulasi tim penanganan konflik satwa liar. Dalam simulasi tersebut, peserta berlatih membangun koordinasi tim, pembagian tugas, komunikasi lapangan, hingga pengambilan sesuai prosedur apabila menghadapi kejadian konflik satwa liar.
Kegiatan pelatihan ini ditutup dengan sesi evaluasi untuk mengukur pemahaman peserta terhadap materi yang telah diberikan sekaligus menjadi bahan masukan dalam penyelenggaraan pelatihan berikutnya.
Melalui pelatihan ini, Balai KSDA Yogyakarta terus berkomitmen meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang penyelamatan dan penanganan satwa liar. Selain itu, kompetensi petugas yang makin baik diharapkan mampu mendukung penanganan konflik manusia dan satwa liar secara profesional, mengutamakan keselamatan seluruh pihak, serta tetap berlandaskan pada prinsip konservasi dan kesejahteraan satwa.
Salam konservasi!
Sumber informasi: Tim UPS Bunder
Penulis naskah: Tim Humas BKSDA Yogyakarta
Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta
Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
