Gunungkidul – Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Rejeki, salah satu kelompok binaan Balai KSDA Yogyakarta, berhasil meraih nilai 635 dalam penilaian kemampuan kelompok. Capaian tersebut menempatkan KTH Ngudi Rejeki pada kategori Kelas Madya dan menjadi salah satu persyaratan untuk mengajukan Nomor Registrasi KTH kepada BP2SDM Kementerian Kehutanan.

Penilaian kemampuan KTH dilaksanakan sebagai bagian dari pendampingan yang dilakukan Balai KSDA Yogyakarta untuk mengukur tingkat perkembangan dan kemandirian KTH. Proses penilaian dilakukan secara komprehensif dengan mengacu pada tiga aspek utama, yaitu kelola kelembagaan, kelola kawasan, dan kelola usaha.

Pada aspek kelola kelembagaan, penilaian mencakup legalitas pembentukan kelompok, kepengurusan, partisipasi anggota termasuk keterlibatan perempuan, perencanaan kegiatan, administrasi kelompok, intensitas pertemuan, pelaksanaan monitoring dan evaluasi, kelengkapan sekretariat, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, hingga keterlibatan kelompok dalam program pemerintah maupun lembaga lainnya.

Sementara itu, aspek kelola kawasan menilai kemampuan kelompok dalam memahami dan mengelola wilayah kerjanya, mulai dari penataan dan pemetaan wilayah kelola, identifikasi potensi dan permasalahan kawasan, pemanfaatan lahan sesuai potensi, kegiatan rehabilitasi, konservasi sumber daya hutan, hingga dampak kegiatan kelompok terhadap kelestarian lingkungan dan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga hutan.

Adapun pada aspek kelola usaha, penilaian difokuskan pada kemampuan kelompok dalam mengembangkan usaha produktif, meliputi pertumbuhan modal, diversifikasi usaha, kemitraan dengan pelaku usaha, perluasan pemasaran, peningkatan omzet dan pendapatan, pemanfaatan teknologi dan informasi, serta kontribusi usaha kelompok terhadap penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan hasil penilaian tersebut, KTH Ngudi Rejeki memperoleh nilai 635 sehingga ditetapkan sebagai KTH Kelas Madya. Predikat tersebut menunjukkan bahwa kelompok telah memiliki kelembagaan yang berkembang, tata kelola organisasi yang baik, serta kemampuan mengelola kawasan dan usaha secara lebih mandiri. Status Kelas Madya juga membuka peluang bagi kelompok untuk memperoleh pembinaan lanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pendampingan teknis, serta akses terhadap berbagai program pemberdayaan masyarakat yang difasilitasi pemerintah. 

Diketahui bahwa saat ini, anggota KTH Ngudi Rejeki tengah menyiapkan sekitar 8.000 polybag sebagai media pembibitan tanaman sengon. Pembibitan tersebut merupakan bagian dari upaya kelompok dalam menyediakan bibit berkualitas untuk kegiatan penanaman sekaligus mengembangkan usaha persemaian yang dikelola secara mandiri.

Selain itu, kelompok juga mulai mempersiapkan demonstration plot (demplot) yang akan diolah menggunakan traktor pada bulan ini. Lahan tersebut direncanakan ditanami cabai dan jagung sebagai komoditas unggulan kelompok. Demplot tidak hanya menjadi sarana praktik budidaya bagi anggota, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Sebagai salah satu kelompok binaan, KTH Ngudi Rejeki terus didorong untuk memperkuat kelembagaan sekaligus mengembangkan usaha produktif berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan. Melalui pendampingan yang dilakukan secara konsisten, Balai KSDA Yogyakarta berharap kelompok mampu menjadi contoh pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan yang mandiri, produktif, dan berkontribusi dalam mendukung upaya konservasi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat (THS).

 

Sumber: Harits Surakhman, S.Si. (Penyuluh Kehutanan Balai KSDA Yogyakarta) 

Editor: Tim Kehumasan Balai KSDA Yogyakarta

Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta

Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)