SLEMAN — Lereng Gunung Merapi kembali menyimpan cerita. Bukan tentang erupsi, melainkan kekayaan hayati yang perlahan disibak melalui kegiatan Jogja Biodiversity Explore edisi turgo pada 21–22 April 2026. Sebanyak 40 peserta dari berbagai latar belakang berkumpul di Dusun Turgo, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman. Selama dua hari, mereka tidak sekadar belajar, tetapi juga turun langsung mengamati dan mencatat kehidupan liar yang selama ini luput dari perhatian. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menuju Hari Konservasi Alam Nasional 2026, dengan fokus utama membangun data dasar (baseline data) keanekaragaman hayati—sesuatu yang kerap dianggap sepele, namun krusial bagi masa depan konservasi.  

Lurah Purwobinangun, R. Heri Suasana, menyebut Turgo sebagai wilayah dengan kekayaan alam yang masih terjaga.  “Di sini masih banyak satwa, termasuk burung anis merah yang menjadi ikon Sleman. Ada juga flora khas seperti pari jodoh dan anggrek merapi, serta satwa nokturnal yang masih melimpah,” ujarnya.

Potensi itu bukan sekadar kebanggaan, tetapi juga peluang. Menurut Heri, pengelolaan yang tepat bisa mendorong konservasi sekaligus membuka ruang ekonomi berbasis alam.

Data awal yang diungkap oleh Bayu, fotografer burung dan penggiat konservasi memperkuat hal tersebut. Ia mengungkapkan ada sedikitnya 102 jenis burung telah teridentifikasi di kawasan ini.

“Burung bisa menjadi indikator kualitas lingkungan. Semakin beragam jenisnya, semakin sehat ekosistemnya. Dan ini bisa jadi daya tarik wisata tanpa harus mengeksploitasi satwa,” tegasnya.

Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Ir. Darmanto, S.P., M.A.P., menegaskan pentingnya pendekatan berbasis data. “Kegiatan ini mengajak peserta untuk mengamati dan mencatat. Data ini menjadi fondasi untuk pengelolaan kawasan dan penyusunan program ke depan,” ujarnya.

Beliau juga menekankan bahwa konservasi tidak bisa berjalan tanpa keterlibatan masyarakat. Kearifan lokal, menurutnya, menjadi kunci agar manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan secara harmonis.

Untuk memperkuat pemahaman, peserta dibekali materi dari tiga narasumber. Hastin Ambar Asti mengupas dunia herpetofauna, kelompok amfibi dan reptil yang berperan sebagai bioindikator, bagian dari rantai makanan, hingga perekayasa ekosistem. Ia juga mengenalkan berbagai teknik inventarisasi, mulai dari Visual pemantauan langsung/sampling sistematik, pemantauan tidak langsung, dan  pemantauan bioakustik.

Sementara itu, Gunawan membahas pengamatan burung sebagai alternatif wisata berkelanjutan. Aktivitas ini, menurutnya, bukan hanya rekreasi, tetapi juga bentuk konservasi berbasis pengalaman. “Yang perlu dilakukan adalah membiarkan burung tetap di alam, pendataan jenis burung dan lokasi yang sering di datangi, serta mendokumentasikan dan membagikan hasilnya,”tegasnya. 

Materi lain yang tak kalah penting adalah penanganan atau handling satwa liar, oleh Rinto dari komunitas manahati. Menurutnya kegiatan ini fundamental agar interaksi manusia dengan satwa tetap aman dan tidak merugikan kedua belah pihak.

Belajar di kelas hanyalah awal. Saat malam tiba, peserta turun ke lapangan melakukan pengamatan herpetofauna (herping), menyusuri kawasan untuk menemukan dan mengidentifikasi reptil serta amfibi. Esok paginya dilanjutkan dengan pengamatan burung di sekitar Dusun Turgo.

Momen-momen itu tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga pengalaman. Panitia bahkan menantang peserta mendokumentasikan hasil temuan melalui lomba foto dan video, memperluas jangkauan pesan konservasi lewat media sosial.

Dari Turgo, pesan itu terasa jelas: menjaga keanekaragaman hayati bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Dengan data, keterlibatan masyarakat, dan pendekatan wisata berkelanjutan, lereng Gunung Merapi berpeluang menjadi contoh bagaimana konservasi dan kesejahteraan dapat berjalan beriringan.

 

Sumber: Tim Jogja Biodiversity Explore Edisi Turgo

Penulis naskah: Tri Hastuti Swandayani, S.Kom., M.Si. (Penata Layanan Operasional/Humas BKSDA Yogyakarta) 

Editor: Tim Kehumasan BKSDA Yogyakarta

Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta

Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)