KULON PROGO — Upaya mendorong desa wisata berbasis konservasi terus digencarkan melalui peningkatan kapasitas masyarakat. Perwakilan warga dari Kalurahan Kemiri dan Kenteng, Kabupaten Gunungkidul, melakukan benchmarking ke Desa Jatimulyo pada Senin (20/4/2026) untuk mempelajari langsung praktik pengelolaan wisata berbasis konservasi yang telah berkembang di wilayah tersebut.
Kegiatan ini didampingi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta. Peserta mendapatkan kesempatan berdialog langsung dengan pengelola desa serta kelompok masyarakat yang menjadi penggerak utama konservasi, yakni Kelompok Tani Hutan Wanapaksi yang berdiri sejak 2018 dengan anggota sebanyak 58 orang.
Dalam sambutannya, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Ir. Darmanto, S.P., M.A.P., menekankan bahwa pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam, tetapi perlu inovasi agar memiliki nilai jual sekaligus tetap menjaga keberlanjutan.
“Kalau wisata hanya mengandalkan potensi yang ada, jujur saja tidak selalu laku. Harus ada modifikasi dan pengemasan yang menarik. Termasuk dalam hal perizinan, yang awalnya mahal bisa disiasati melalui kelembagaan seperti koperasi sehingga lebih efisien,” ujarnya.
Beliau menambahkan, Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi dinilai telah mampu mengemas potensi desa menjadi eduekowisata yang bernilai. “Tantangannya sekarang adalah bagaimana burung dan alam tetap lestari, sekaligus konsep eduekowisata ini bisa diterapkan di Kalurahan Kenteng dan Kemiri,” lanjutnya.
Sebagai informasi, Desa Jatimulyo dikenal sebagai desa ramah burung yang berhasil memadukan pelestarian lingkungan dengan pengembangan ekonomi masyarakat. Transformasi ini berawal dari perubahan perilaku warga yang sebelumnya melakukan perburuan burung, kemudian beralih menjadi pelindung satwa setelah diterbitkannya Peraturan Desa Nomor 8 Tahun 2014.
Sementara itu, Kelik Suparno, Kader Konservasi dari KTH Wanapaksi, mengungkapkan bahwa perjalanan membangun desa ramah burung dimulai sejak 2012 dan membutuhkan proses panjang hingga akhirnya berkembang menjadi model ekowisata berbasis konservasi. Ia menjelaskan bahwa konsep tersebut bertumpu pada perlindungan jenis burung, pelestarian habitat, serta penciptaan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Berbagai inovasi pun dikembangkan, mulai dari program adopsi sarang burung, wisata fotografi alam, hingga penyediaan fasilitas penelitian biodiversitas. Selain itu, masyarakat juga mengembangkan usaha pendukung seperti kopi, gula semut, dan budidaya lebah klanceng tanpa mengubah karakter alami lingkungan. Model wisata yang diterapkan juga dirancang agar manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh warga, salah satunya dengan mendorong wisatawan menginap di rumah penduduk daripada berkemah.
Ia juga menekankan pentingnya riset sebelum membuka destinasi wisata, terutama untuk memastikan aktivitas yang dikembangkan tidak merusak ekosistem. Selain itu, faktor kunci keberhasilan juga terletak pada konsistensi kelompok dalam menjaga komitmen. Pertemuan rutin, transparansi pengelolaan, serta kesetaraan antaranggota menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan program. “Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk aparat penegak hukum, juga dilakukan untuk menekan perburuan liar melalui pendekatan edukatif, tegasnya.
Dari kegiatan ini, diharapkan Kalurahan Kemiri dan Kenteng mampu menyusun rencana aksi pengembangan desa wisata berbasis konservasi yang sesuai dengan potensi lokal masing-masing. Pendekatan ini diyakini tidak hanya membuka peluang ekonomi baru, tetapi juga memperkuat kemandirian desa sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sebagai aset utama pembangunan berkelanjutan, serta membuka jejaring kemitraan antara masyarakat Gunungkidul dengan Kelompok Tani Hutan Wanapaksi maupun pengelola wisata setempat.
Dalam jangka panjang, hasil dari proses ini diharapkan mampu meningkatkan kemandirian desa, mendorong adopsi konsep konservasi berbasis wisata, meningkatkan pendapatan asli desa, serta membentuk perubahan pola pikir aparat dan masyarakat menuju pengelolaan wisata yang lebih berkelanjutan. Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi pijakan awal bagi lahirnya inovasi-inovasi wisata baru yang tetap berpijak pada prinsip pelestarian lingkungan.

Sumber: Fajar Pramono, S.P. (Penyuluh Kehutanan) dan Siti Markhamah, S.Hut. (PEH)
Penulis naskah: Tri Hastuti Swandayani, S.Kom., M.Si. (Penata Layanan Operasional/Humas BKSDA Yogyakarta)
Editor: Tim Kehumasan BKSDA Yogyakarta
Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta
Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
