GUNUNGKIDUL — Dalam rangka Road to HKAN dan Peringatan Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April, Balai KSDA Yogyakarta bersama warga Padukuhan Legundi, Kalurahan Planjan, Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul dan berbagai pemangku kepentingan melaksanakan kegiatan penanaman pohon di Telaga sumuran pada Jumat (17/4/2026).
Kegiatan ini mengusung tema “Harmoni Budaya dan Alam – Nguri Uri Bumi: Saka Kabudayaan Nganti Aksi Kang Migunani”. Penanaman pohon dirangkaikan dengan tradisi tahunan Merti Telaga, yang menjadi wujud nyata kepedulian masyarakat dalam membersihkan sampah di area telaga sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas ketersediaan sumber air.
Rangkaian kegiatan tersebut menegaskan bahwa upaya konservasi tidak hanya berfokus pada aspek ekologis, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal. Kolaborasi lintas sektor yang terbangun dalam kegiatan ini menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air melalui pendekatan yang partisipatif dan berbasis kearifan lokal.
Selain sebagai upaya penghijauan, kegiatan ini juga mengandung makna restorasi identitas, yakni menghidupkan kembali nilai historis dan kultural Padukuhan Legundi melalui penanaman vegetasi yang merepresentasikan asal-usul nama wilayah tersebut.
Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan dari Dukuh Legundi, Lurah Planjan, Kepala seksi KSDA Wilayah II Balai KSDA Yogyakarta, serta Komunitas Resan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ikrar bersama, prosesi tumpengan, dan kembul bujono sebagai simbol kebersamaan.
Penanaman pohon secara simbolis dilakukan oleh Lurah Planjan bersama Kepala Seksi KSDA Wilayah II, yang kemudian diikuti oleh seluruh peserta kegiatan. Sebanyak 300 bibit tanaman difasilitasi oleh MSIG dengan jenis antara lain bulu, preh, santenan, dan ipik. Selain itu, BEM Universitas Gunung Kidul turut berkontribusi dengan memberikan 13 bibit tanaman jenis ficus.
Dari sisi ekologis, penanaman vegetasi di sekitar kawasan telaga diharapkan dapat meningkatkan daya resap air tanah dan menjaga ketersediaan air, terutama saat musim kemarau. Sementara itu, dari sisi budaya, penanaman pohon legundi dinilai sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali asal-usul nama Padukuhan Legundi sekaligus memperkuat keterkaitan masyarakat dengan lingkungannya.
Kegiatan ini dihadiri oleh Lurah Planjan, Bhabinkamtibmas, Babinsa, perwakilan Balai KSDA Yogyakarta, Komunitas Resan, BEM Universitas Gunung Kidul, serta masyarakat setempat. Melalui kolaborasi ini, diharapkan upaya konservasi lingkungan dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak serta tetap berakar pada nilai-nilai budaya lokal.

Sumber: Resor KSDA Wilayah SM Paliyan
Penulis naskah: Tri Hastuti Swandayani, S.Kom., M.Si. (Penata Layanan Operasional/Humas BKSDA Yogyakarta)
Editor: Tim Kehumasan BKSDA Yogyakarta
Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta
Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
