Kulon Progo — Kegiatan Jogja Bird Walk Edisi Asian Waterbird Census (AWC) 2026 yang dilaksanakan di kawasan Muara Kali Progo, Kabupaten Kulon Progo pada Hari Minggu (15/02/2026) berhasil mencatat sedikitnya 23 jenis burung. Kegiatan ini merupakan bagian dari partisipasi dalam program internasional Asian Waterbird Census (AWC) yang dilaksanakan secara serentak di berbagai negara untuk memantau populasi burung air dan kondisi habitat lahan basah.
Dalam kegiatan tersebut, Balai KSDA Yogyakarta berpartisipasi melalui pendampingan dan pengamatan burung bersama berbagai unsur, antara lain Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ), PADAS, KTH Ngudi Lestari, Burung Indonesia, Biolaska, mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Stiper, Universitas Nasional, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret, serta masyarakat umum yang memiliki minat terhadap pengamatan burung dan pelestarian lingkungan.
Pengamatan dilakukan dengan metode penghitungan langsung (direct count) melalui pembagian titik-titik pantau di sepanjang kawasan muara menggunakan teropong dan kamera dokumentasi. Hasil pengamatan mencatat sedikitnya 23 jenis burung yang dijumpai di kawasan muara dan sekitarnya, yang terdiri dari 15 jenis burung air dan 8 jenis burung darat/ non-air. Beberapa jenis burung air yang teramati adalah trinil semak, blekok sawah, kuntul kerbau, kuntul perak, cerek krenyut, trinil pantai, kuntul kecil, dara laut jambul, gagang bayam, cangak abu, trinil kaki hijau, cangak besar, cerek jawa, kedidi, dan kareo padi. Selain itu, teramati pula jenis burung lain seperti cici padi, perkutut, bubut alang-alang, cinenen kelabu, perenjak rawa, cekakak sungai, raja udang biru, serta gereja.
Keanekaragaman jenis yang teramati menunjukkan bahwa Muara Kali Progo merupakan habitat penting bagi berbagai jenis burung air, baik burung penetap maupun burung migran. Kawasan ini berfungsi sebagai lokasi mencari makan, beristirahat, hingga tempat singgah (stopover site) bagi burung migran yang melintasi jalur terbang Asia–Australia. Keberadaan burung air di wilayah ini menjadi indikator penting kondisi ekosistem pesisir.
Burung air tidak hanya hadir sebagai bagian dari keanekaragaman hayati, tetapi juga berperan sebagai indikator kesehatan lingkungan, pengendali populasi organisme kecil, penyebar biji, serta penjaga keseimbangan rantai makanan. Populasi yang terjaga menjadi sinyal bahwa ekosistem masih dalam kondisi relatif baik, sedangkan penurunan jumlah atau keanekaragaman jenis dapat menjadi peringatan dini adanya gangguan lingkungan.
Keterlibatan Balai KSDA Yogyakarta dalam kegiatan ini merupakan bentuk komitmen penguatan jejaring konservasi serta dukungan terhadap pengelolaan satwa liar berbasis data ilmiah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Data hasil pengamatan diharapkan dapat menjadi referensi dalam upaya perlindungan habitat burung air sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian ekosistem pesisir.
Sumber: Dessy Rifah Anshory, A.Md. (Penyuluh Kehutanan)
Penulis naskah: Tri Hastuti Swandayani, S.Kom., M.Si. (Penata Layanan Operasional/Humas Balai KSDA Yogyakarta)
Editor: Tim Kehumasan Balai KSDA Yogyakarta
Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta
Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
