Gunungkidul — Semangat kolaborasi menjaga kelestarian kawasan kembali menggema di Kabupaten Gunungkidul. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Yogyakarta bersama berbagai pihak melaksanakan kegiatan konservasi terpadu di kawasan Luweng Ombo dan Goa Song Gilap pada 12–13 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekosistem karst sekaligus peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Balai KSDA Yogyakarta tersebut melibatkan pemerintah kelurahan dan kapanewon, mahasiswa magang ISI, LSM Relung Indonesia, Karang Taruna, serta Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Lestari dan KTH Sodong Makmur. Sinergi lintas pihak ini menegaskan bahwa konservasi merupakan tanggung jawab bersama, dengan Balai KSDA Yogyakarta sebagai motor penggerak di tingkat tapak.
Penanaman Perkuat Tutupan Vegetasi
Selama dua hari pelaksanaan, sebanyak 400 bibit tanaman berhasil ditanam di titik-titik strategis kawasan. Sebanyak 200 bibit ditanam di kawasan Luweng Ombo pada 12 Februari 2026, dan 200 bibit lainnya ditanam di kawasan Goa Song Gilap pada 13 Februari 2026. Kegiatan penanaman dilaksanakan secara gotong royong dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari instansi pemerintah, mahasiswa, hingga masyarakat setempat.
Bibit yang ditanam terdiri atas tanaman konservasi dan tanaman buah produktif, seperti jambu mete, jambu air, nangka, sirsak, kluweh, randu alas, elo, kepuh, serta berbagai jenis tanaman lokal lainnya. Pemilihan jenis tanaman disesuaikan dengan karakteristik lahan karst yang memiliki lapisan tanah tipis dan rentan terhadap erosi. Selain itu, Komposisi tanaman tersebut dirancang untuk memenuhi dua fungsi utama, yakni fungsi ekologis dan fungsi sosial-ekonomi.
Secara ekologis, penanaman bertujuan memperkuat tutupan vegetasi di kawasan karst yang memiliki karakteristik tanah tipis, berbatu, dan rentan terhadap erosi. Akar tanaman diharapkan mampu membantu menahan lapisan tanah, meningkatkan infiltrasi air hujan, serta menjaga kestabilan struktur lahan di sekitar mulut luweng dan kawasan goa. Tutupan vegetasi yang baik juga berperan penting dalam menjaga kelembapan mikro dan mendukung keberlangsungan habitat satwa liar.
Sementara itu, dari sisi sosial-ekonomi, pemilihan tanaman buah produktif menjadi langkah strategis untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar. Hasil panen di masa mendatang diharapkan dapat menambah sumber penghasilan warga sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap kawasan konservasi. Dengan demikian, upaya pelestarian tidak hanya bersifat perlindungan semata, tetapi juga memberikan nilai tambah yang nyata.
Monitoring Satwa sebagai Indikator Ekosistem
Selain penanaman, Balai KSDA Yogyakarta juga melaksanakan monitoring satwa sebagai bagian dari evaluasi kondisi habitat. Kegiatan ini dilaksanakan di Luweng Ombo pada 12 Februari 2026 dan di Goa Song Gilap pada 13 Februari 2026 dengan metode pengamatan langsung menggunakan kamera dan alat optik seperti teropong.
Monitoring dilakukan secara sistematis dengan menyusuri titik-titik yang berpotensi menjadi lokasi aktivitas burung, termasuk area pepohonan, semak, dan sekitar mulut goa. Dari hasil pengamatan, di Luweng Ombo terpantau sekitar 50–70 ekor Gelatik jawa. Sementara itu, di Goa Song Gilap ditemukan sekitar 50 ekor Gelatik jawa dan kurang lebih 20 ekor burung betet.
Selain kedua jenis tersebut, tim juga mencatat keberadaan berbagai burung lain seperti kutilang, merbah trucuk, madu sriganti, madu kelapa, cinenen pisang, prenjak, bondol jawa, kadalan birah, sepah kecil, cabe jawa, dan sriti. Keanekaragaman jenis ini menunjukkan bahwa kawasan karst tersebut masih menyediakan sumber pakan, tempat berlindung, dan lokasi berkembang biak yang memadai bagi satwa liar.
Monitoring satwa tidak hanya bertujuan mendata jumlah populasi, tetapi juga untuk melihat dinamika habitat dan potensi ancaman yang mungkin terjadi. Data yang diperoleh akan menjadi dasar dalam penyusunan strategi pengelolaan kawasan ke depan, termasuk langkah perlindungan dan rehabilitasi lanjutan. Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keberadaan burung dan satwa liar di kawasan karst Gunungkidul semakin meningkat.
Pemberdayaan Masyarakat melalui Pelatihan Pupuk Organik
Sebagai bagian dari pendekatan konservasi berbasis kolaborasi, Balai KSDA Yogyakarta memfasilitasi pelatihan pembuatan pupuk organik bagi masyarakat sekitar kawasan. Kegiatan ini menggandeng KTH Sodong Makmur dari Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul sebagai narasumber sekaligus pengajar dalam praktik pembuatan pupuk organik.
Pelatihan dilaksanakan selama dua hari. Pada 12 Februari 2026, kegiatan berlangsung di Padukuhan Wates, Kalurahan Wates, Kapanewon Tanjungsari. Selanjutnya, pada 13 Februari 2026, pelatihan digelar di Padukuhan Klumpit, Kalurahan Kenteng, Kapanewon Panggang. Pelatihan tersebut diikuti oleh masyarakat setempat yang antusias mengikuti setiap sesi teori maupun praktik. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan limbah organik secara produktif, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta mendukung upaya konservasi melalui praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Kegiatan ini diawali dengan pemaparan materi mengenai pentingnya penggunaan pupuk organik dalam mendukung keberhasilan penanaman di lahan karst. Peserta kemudian mendapatkan praktik langsung pembuatan pupuk menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar mereka, seperti kotoran kambing, tetes tebu, air, EM4, dolomit atau kapur gamping, serta tanah.
Proses pencampuran, fermentasi, hingga cara aplikasi pupuk dijelaskan secara rinci agar peserta dapat mempraktekkannya secara mandiri. Selain mendukung pertumbuhan tanaman hasil penanaman, penggunaan pupuk organik juga diharapkan mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan unsur hara, serta menjaga keseimbangan mikroorganisme tanah.
Melalui pelatihan ini, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penerima program, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam perawatan dan keberlanjutan kawasan. Pendekatan ini menegaskan bahwa keberhasilan konservasi sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat sebagai penjaga sekaligus pemanfaat kawasan secara bijak.
Melalui rangkaian kegiatan konservasi terpadu tersebut, Balai KSDA Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan ekosistem karst Gunungkidul. Integrasi antara rehabilitasi vegetasi, pemantauan keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan masyarakat menjadi strategi utama agar kelestarian kawasan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga sekitar.
Sumber: Fajar Pramono, S.P. (PEH Ahli Pertama) dan Mahasiswa Magang ISI
Penulis naskah: Tri Hastuti Swandayani, S.Kom., M.Si. (Penata Layanan Operasional/Humas Balai KSDA Yogyakarta)
Editor: Tim Kehumasan Balai KSDA Yogyakarta
Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta
Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
