Hadirnya revolusi industry 4.0 (era digitalisasi) menjadikan permpuan terbiasa dengan digitalisasi. Terlebih lagi terjadinya pandemic Covid-19 membawa dampak besar dari hal-hal yang biasa menjadi luar bisa, mengubah cara pandang dari kondisi normal menjadi digital dan merubah banyak aktivitas berubah secara digital seperti aktivitas sekolah secara online (daring), work from home (WFH), rapat secara online dan berbagai aktivitas lainnya yang berubah dilakukan secara  digital.  
Efek pandemi Covid - 19 telah membawa perubahan peningkatan penggunaan platform digital/ internet. Di tahun 2022 terdapat 204,7 juta pengguna internet di Indonesia atau setara dengan lebih dari 73% penduduk di Indonesia. Akan tetapi jumlah tersebut belum mampu merepresentasikan tingkat ketepatan penggunaan platform digital. Belum banyak pengguna internet yang bijak dalam menggunakannya. 


Berpijak pada kondisi tersebut, Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Kehutanan (BBPSIK) menyelenggarakan Seminar PUG “Peran Gender dalam Literasi Digital: Mitigasi Penyalahgunaan Pemanfaatan Teknologi Informasi”, hari Selasa (22/11/22). Acara dibuka dengan Laporan Kepala BBPSIK -  Dwi Prabowo YS, S.Si. M.Sc. Ph.D dilanjutkan dengan Sambutan Kepala Biro Perencanaan KLHK - Dr. Ir. Apik Karyana, M.Sc, dan Arahan ekretaris Badan Standardisasi Instrumen LHK - Dr. Nur Sumedi, S.Pi, MP. 

Sebagai Narasumber dalam seminar ini adalah Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si, dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan Popi Andiyansari, S.Sos, M.A, dari Program Studi Imu Komunikasi, Universitas Teknologi Yogyakarta. Hadir dalam kegiatan seminar ini perwakilan dan Dharma Wanita dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) KLHK di DIY.
Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi hadir secara virtual pada kesempatan ini dan menugaskan Kepala Sub Bagian Tata Usaha – Endarmiyati, S.Si., M.Sc dan Ketua Dharma Wanita BKSDA Yogyakarta – Metior Sampebungin untuk hadir langsung di BBPSIK dan turut serta dalam kegiatan seminar yang sarat dengan informasi terkait Gender. 
Gender sejatinya bukan mengarah kepada perempuan, Gender lebih ditepat dipahami sebagai sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan serta membedakan antara maskulinitas dan femininitas. Permasalahan gender terjadi ketika belum tercapai kesetaraan dan adil. Gender juga dipersoalkan ketika terjadi diskriminatif dan pada umumnya terjadi pada perempuan. Pada perkembangannya di era digital ini, muncul Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) yang juga masih menempatkan perempuan sebagai pihak yang dirugikan. Data menunjukkan di tahun 2020 terjadi 786 (tujuh ratus delapan puluh enam) kasus KBGO dan pada tahun 2021 mengalami peningkatan kasus menjadi 1.321 (seribu tiga ratus dua puluh satu) kasus KBGO. Salah satu penyebab utama terjadinya KGBO adalah tersimpannya data pribadi di Internet, yang dimanfaatkan oleh oknum kurang bertanggung jawab. Untuk menyikapi kondisi ini sangat penting bagi perempuan untuk menjadi perempuan yang melek digital. 


Perempuan yang cakap bermedia digital dinilai mampu mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat keras maupun perangkat lunak pada saat menggunakan platform digital. Perempuan yang melek digital diharapkan akan lebih cerdasr saat beraktivitas di dunia maya, mampu memilah informasi dengan benar, dan bijaksana saat membagikan informasi di medsosnya. Perlu adanya kesadaran untuk menjaga data pribadi dan rekam jejak digital  karena data pribadi ini adalah tubuh digital kita di dunia maya jika tidak dikelola dengan bijak akan berpotensi terhadap meningkatnya peluang terjadinya KGBO.
 

Sumber: 
Balai KSDA Yogyakarta
Penanggung jawab: 
Kepala Balai KSDA Yogyakarta- Muhammad Wahyudi (HP 0852-4401-2365)
Kontak informasi: 
Call center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)